Masih Adakah Cinta Bagi Tuhan dan Sesama

mt-teresa

Dalam dunia kita saat ini masih adakah cinta tulus bagi Tuhan dan sesama?

Laju perkembangan teknologi yang berdampak kemudahan dan kenyamanan hidup telah membawa manusia zaman now ke dunia modern. Dunia yang yang menghadirkan surga fana yang membuat orang lupa pada sesamanya yang hidup dalam keterpurukan, ketertinggalan dan tersisihkan. Di dunia dimana kita hidup, kita menemui begitu besar kesenjangan yang terjadi. Kita mengidentifikasi kebutuhan paling mendesak saat ini ketika kita melihat kemiskinan, perdagangan manusia, migrasi dengan keterpaksaan, pengungsi di banyak tempat, ketidaksetaraan gender, kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak serta intoleransi beragama.

Ketika  kita melihat dan mendengar kisah tentang perempuan, tenaga kerja wanita asal Jawa Barat divonis mati oleh penegak hukum Arab Saudi karena dituduh membunuh majikannya. Terusikkah hati kita? Padahal ia membela diri karena pelecehan sexual yang dilakuakan majikannya dan saat mencoba melarikan diri dari rumah majikan, dia justru diperkosa oleh sembilan orang. (Mata Najwa, Trans 7, Rabu 28/3/2018). Hati kita terusik oleh ketidakadilan. Ya, masih ada banyak hati yang memiliki kasih untuk sesamanya. Masih ada banyak orang yang tidak akan diam menyaksikan ketidakberdayaan sesamanya.

 

  1. Panggilan Hidup Bakti

Panggilan hidup bakti adalah anugerah Roh Kudus

“Di setiap masa ada orang-orang pria maupun wanita yang mematuhi panggilan Bapa dan dorongan Roh Kudus, dan memilih cara khusus itu dalam mengikuti Kristus, guna membaktikan diri kepada-Nya dengan hati tak terbagi. Seperti para Rasul, mereka pun telah meninggalkan segala-sesuatu untuk menyatu dengan Kristus dan seperti Dia mengabdikan diri kepada Allah dan kepada saudara-saudari mereka. Begitulah, melalui sekian banyak karisma hidup rohani dan kerasulan yang dianugerahkan kepada mereka oleh Roh Kudus, mereka membantu menjadikan misteri dan misi Gereja memancarkan sinar dan dengan demikian berperan serta demi pembaruan masyarakat.” (Vita Consecrata No.1 al.2)

Panggilan hidup bakti adalah anugerah Roh Kudus. Roh Kudus yang tak pernah berhenti berkarya. Dia menggerakkan hati orang-orang khususnya kaum muda untuk untuk mengabdikan hidup mereka bagi Allah dan sesama. Maka panggilan ini tidak pernah padam. Selalu ada orang muda yang menyatakan kehendaknya untuk memilih cara hidup khusus sebagai imam, biarawan atau pun biarawati.

Di dunia yang sarat dengan persaingan, krisis kasih melanda semua orang dan terjadi di mana-mana. Namun kita orang-orang yang percaya (kita mendoakan syahadat para Rasul) justru dipanggil untuk memiliki kehidupan yang berbeda yaitu menyatakan kasih kepada sesama.  Mengapa?  Karena Tuhan telah terlebih dahulu mengasihi kita.  “Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan  telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita.”  (1 Yohanes 4:10).  “Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.”  (1 Yohanes 4:8).  Jika dunia berprinsip bahwa bersaing adalah solusi terbaik untuk setiap permasalahan, Gereja dan Kitab Suci justru mengajarkan prinsip yang berbeda. Sebuah cara hidup alternatif. Ibu Theresa mengatakan, “Panggilan adalah kasih Kristus”. Maka panggilan pertama-tama bukanlah kehendak pribadiku. Tetapi Roh Kudus membuatku, membuat manusia mampu mendengar, menjawab serta berusaha untuk setia.

Panggilan hidup bakti adalah seni hidup bersama Tuhan

Dalam homili di Basilika Santo Petrus Vatikan, 2 Februari 2018 dalam rangka Hari Hidup Bakti, Paus Fransiskus mengatakan, bahwa perjalanan hidup bakti lahir dari sebuah perjumpaan dan panggilan. Perjumpaan dengan Yesus yang miskin, suci dan taat serta panggilan untuk menghagai serta belajar dari mereka yang lebih berpengalaman. Perjumpaan dengan Yesus, tidak mungkin terjadi tanpa perjumpaan dengan orang lain. (bdk.vaticannwes, penakatolik.com/2018/02/03)

Pribadi-pribadi yang bersedia membuka hati lebar-lebar pada Roh yang berkarya, adalah pribadi-pribadi yang mengusahakan cara atau jalan hidup yang berkualitas. Mereka mampu hidup dalam keheningan, sehingga mampu mengenali Allah yang hadir dalam setiap pribadi dan alam ciptaan. Hatinya hanya memiliki kehendak untuk mencintai dan menyembuhkan. Hatinya ingin melayani dan yang tak kalah penting, hatinya selalu berdoa, terarah kepada Allah. Mereka inilah yang mampu mendengar dan menjawab panggilan Allah. Ibu Theresa mengatakan, kita harus belajar hening untuk dapat menemukan-Nya di kedalaman hati kita serta dalam kehadiran sesama. Hal ini bukan berarti para Imam, biarawan dan biarawati adalah manusia-manusia sempurnya. Mereka pun berjuang dari hari ke hari untuk mengusahakan keterarahan hati pada Allah. Maka hidup bakti adalah seni hidup bersama Allah. Kerapuhan manusia yang dipertemuan dengan kesempurnaan Allah melalui belas kasih tanpa batas dan tak pernah habis. Allah sendiri yang selalu memperbarui panggilan-Nya.

Panggilanku, undangan untuk setia kepada Dia yang lebih dulu setia

Dua puluh lima tahun lalu aku mengikrarkan Kaul Pertama dalam Kongregasi Bunda Pengasih Gembala Baik. Bagiku waktu begitu cepat berlalu. Saat itu bapak dan ibuku  banjir air mata meskipun mereka merestuiku. Rasa berat itu begitu menyesakkan mereka. Dengan air mata yang tak bisa kubendung pula, aku berusaha menenangkan, kukatakan, aku akan baik-baik dan tetap menyayangi mereka. Sebagai suster muda yang penuh semangat dan penuh cinta, aku selalu mengingat kedua orang tuaku dalam doa-doaku. Allah memelihara mereka. Enam tahun kemudian saat aku mengikrarkan Kaul Kekal, suasana telah berubah. Uparara Kaul Kekal bernuansa syukur dan bahagia. Rasa cinta kami satu sama lain dalam keluarga kristiani tetap hidup dan utuh. Aku tahu bapak, ibu dan keluargaku mendukungku dengan doa-doa mereka sehingga aku telah melalui perjalanan panjang sebagai seorang biarawati.

Perjalanan panggilanku adalah peziarahan cinta bersama Allah dan sesama. Panggilanku dalam Kongregasi Gembala Baik memungkinkan aku hadir bagi saudara-saudariku yang yang tersisih dan miskin. Aku menemukan Allah selain dalam doa-doa dan keheningan, juga dalam perjumpaan dan perjuangan bersama mereka. Cinta belas kasih yang tertanam dalam diriku sejak dalam keluargaku semakin bertumbuh bersama cinta belas kasih yang merupakan kharisma Kongregasi. Bekerjasama dengan awam pemerhati penghuni bantaran Kali Ciliwung, kami melayani dan membimbing keluarga-keluarga untuk memiliki kehidupan yang lebih layak. Bersama ibu-ibu muda yang mengalami kehamilan tidak dikehendaki, kami berjuang untuk terus memilih hidup dan memperjuangkan keadilan. Bersama pemudi-pemudi yang putus sekolah di pedalaman Ketapang, Kalimantan Barat, kami mengembangkan diri untuk mampu mandiri dan suara kami didengar dan dihargai. Bersama teman-teman pengungsi Timor Leste di Atambua, kami berjuang untuk mempertahankan hidup dan berjuang untuk dapat memiliki lagi tanah kelahiran di Timor Leste.

Pengalaman kemanusiaan itu begitu kaya. Dan aku pun jatuh dan bangun mengikutinya. Satu hal yang aku tahu dari semua pengalaman itu, bahwa Allah selalu setia. Bukan keberhasilan dan sukses yang membuatku bahagia. Namun kasih dan kesetiaan Allah mampu membuatku bahagia dan setia dalam panggilanku.

Sebagai seorang suster, aku tidak hanya bekerja dan melayani. Pada saat yang sama kami juga berkesempatan belajar dan berkembang dalam hidup doa dan formasio. Maka kepribadian dan kedewasaanku pun berkembang. Spiritualitas kami terus berkembang dan semakin kaya. Kami semakin menyadari tanggung jawab kami sebagai bagian dari seluruh alam semesta ciptaan Allah.

  1. Kongregasi Bunda Pengasih Gembala Baik (RGS)

“Ingatlah bahwa kongregasi kita didirikan hanya oleh cinta akan jiwa-jiwa, kalian akan mempertahankannya hanya dengan cinta itu. Apakah kalian tahu apa yang saya sebut dengan cinta akan jiwa-jiwa yang harus kita miliki? Saya menyebutnya cinta yang menghargai. Orang-orang kudus mencintai jiwa-jiwa karena jiwa-jiwa itu sudah  ditebus oleh darah Tuhan. Mereka menghargai jiwa anak yang kasar, yang penuh kesalahan dan jiwa seorang pendosa besar, karena jiwa itu dicintai oleh Allah dan Tuhan kita mencurahkan darah-Nya untuk menebus mereka”.

(Konferensi St. M. Euphrasia)

Kongregasi Bunda Pengasih Gembala Baik (Congregation of Our Lady of Charity of the Good Shepherd) didirikan oleh Santa Maria Euphrasia pada tahun 1835.  Kongregasi yang mengemban misi rekonsiliasi ini memiliki akarnya dalam “Congregation of Our Lady of  Charity of the Refuge” yang didirikan tahun 1641 oleh Santo Yohanes Eudes di Perancis dan disahkan oleh Tahta Suci pada tanggal 2 Januari 1666. Kongregasi ini berstatus kepausan dan hadir di 80 negara. Enam Suster dari Negeri Belanda memulai karya di Indonesia sejak tahun 1927. Sejak tahun 1996, RGS memiliki status konsultatif khusus di ECOSOC (Economic Social Council) PBB.

Kongregasi Gembala baik berkomitmen untuk berpihak kepada perempuan dan anak-anak yang terpinggirkan, tertindas dan terbelenggu dalam lingkaran kemiskinan, ketidak-setaraan gender, menjadi pihak yang rentan terhadap kekerasan, perdagangan orang dan pelecehan hak azasi manusia. Kami, para suster dan Mission Partners awam yakin dan percaya bahwa mereka berhak mendapatkan kehidupan yang lebih layak. Kami membuka diri bagi setiap pribadi yang tergerak hatinya untuk bergabung dan bersama-sama bertanggung jawab dalam perutusan Gembala Baik untuk memperbaiki system yang merugikan kaum perempuan dan anak.

Saat ini di Indonesia kami memiliki 7 tempat pelayanan yakni di Jakarta, Bogor, Jogyakarta dan Bantul, Ruteng (Flores), Marau (Ketapang) dan Batam. Orientasi pelayanan kami adapah para perempuan dan anak yang terbagi dalam bebrapa kategori pelayanan: pemberdayaan perempuan dan anak, penanganan korban dan pencegahan perdagangan manusia dan kekerasan, Asrama Putri dan Panti Bina Remaja, Pendidikan serta Ekonomi berkeadilan. Kami mengembangkan partnership dengan awam yang memiliki keprihatinan dan semangat yang sama dalam melaksanakan perutusan Gembala Baik untuk menjangkau lebih banyak pribadi yang terpinggirkan.

Sr. M. Magdalena Rini, RGS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s